Hari ini hari Jum’at, 5 Juni 2009. Tepat sebulan sebelum hari besar yang ditunggu-tunggu, yaitu pernikahan Sang Jaka. hihi…
Banyak hal yang sudah dilalui dari masalah pernikahan dan masih terus akan dipersiapkan sampai 1 bulan kedepan. Cobaannya buanyak banget, dan Sang Jaka juga baru merasakan yang namanya PMS, PreMarital Syndrome. Tapi alhamdulillah sampai sejauh ini masih bisa dilewati dengan baik dan penuh rasa cinta
…
PreMarital Syndrome yang dihadapi Sang Jaka ada beberapa macem (Termasuk PMS bukan ya?? :p) :
1. Over khawatir soal persiapan pernikahan
2. Jadi sensitif banget perasaannya, untuk hal sepele pun bisa sensitif
3. Ada ketakutan untuk menyatukan 2 keluarga yang berbeda latar belakang
4. Sering marah-marah gak jelas.
5. Sering linglung. hihi.. Lost in space banget.. (Ngalamun)
6. Mengkhawatirkan hal-hal yang gak jelas
Tapi Sang Jaka selalu berusaha melewati hari-harinya dengan sebaik mungkin, walaupun kadang bukan dengan cara yang terbaik,
. Maklum, baru merasakan fase ini sekali seumur hidup. Alhamdulillah Sang Jaka punya Tuan Putri Kepoh yang selalu berusaha untuk menenangkan dengan kesabaran dan kelembutannya. Terima kasih ya sayang.
Sang Jaka membaca banyak artikel soal PreMarital Syndrome, dan memang sudah hal lumrah untuk beberapa pasangan yang merencanakan menikah, dan menjadi sangat sensitif sekali. Hal paling parah yang di baca oleh Sang Jaka adalah, banyak pasangan yang terbersit pertanyaan di dirinya “Apakah benar dia merupakan jodoh dan pasangan yang akan menemani hidupku???”.
Alhamdulillah tak pernah terpikir sedikitpun atas keraguan Sang Jaka terhadap wanita yang ia pilih.
Perlu disadari pula, untuk proses PMS ini, setiap pasangan harus sadar bahwa orang yang ia cintai pun sedang mengalami hal yang sama. Apabila kita sedang sensitif, maka berhati-hatilah dalam berucap dan berusaha sabar, karena pasangan kita pun perasaannya tidak kalah sensitifnya dengan kita. Yang diperlukan adalah komunikasi yang baik, dan saling mendengarkan keluhan satu sama lain.
Sangat penting pula untuk tidak menilai pasangan kita berdasarkan respon-respon dia saat premarital tersebut. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa proses ini bisa merubah pasangan kita menjadi makhluk lain. hihi… Mungkin menjadi makhluk yang menakutkan, bahkan seperti monster. But then again, it’s normal. Yang terpenting adalah selalu komunikasi dan saling mendengarkan. Kita memilih pasangan kita dan memutuskan untuk menikahinya karena adanya banyak keistimewaan dalam dirinya yang membuat kita melambung sampai langit ke-7 dan menganggap dirinya adalah orang yang nyaris sempurna dan bisa menjadikan kita orang yang lebih baik. Pegang keyakinan itu, dan buang semua keraguan mengenai pemikiran-pemikiran negatif dan kekhawatiran-kekhawatiran yang tidak jelas. Insya’allah hati kita akan lebih tenang dengan selalu meyakini dan terus berdoa bahwa Allah telah memberikan yang terbaik untuk kita semua. Amiiinn..