Persiapan Nikah (Chapter 1 - Ketemu Camer)
Hari Jumat, melarikan diri dari kantor pada jam 16.30, dengan istilah kerennya tenggo (teng terus go). Berhubung di tiket bis Nusantara yang dah aku beli 2 hari yang lalu tertulis jam keberangkatan adalah jam 17.00, maka akupun gak boleh terlambat menuju pool yang notabene harus di tempuh dalam waktu 15-20 menit dari kantor. Ku terjang hujan angin dan petir sore itu. Gak tau deh kenapa, seminggu terang benderang, tapi alam kayaknya tau kalo aku mau pulang sore hari itu, jadinya di buat perjuanganku untuk pulang tidak semudah biasanya. hehehe… Terima kasih Pak Ojek yang telah mengantarkanku ke pool dengan selamat (walau harga ojeknya kurang bersahabat. hihihi…)
Alhamdulillah sampe di pool bis tepat waktu, dan langsung berangkat menuju Semarang tercinta.
Hari Sabtu 15 November 2008 jam 3.00 pagi aku sampai di Krapyak, Semarang di jemput Bapak Ibu tercinta. Sesampai di Semarang, sudah banyak rencana yang harus di jalani. Pukul 1 siang perjalanan di mulai, dari Semarang ke Boyolali untuk menjemput eyang ti Pono tercinta, lalu pergi ke makam alm. Eyang kung Pono di Kebak Kramat, setelah itu mampir ke tempat Om Nono di Palur, Solo. Tak lupa juga untuk selalu “Nyuwun Pengestu” dan minta di doakan semoga kerjaan dan segala apa yang aku rencanakan bisa berjalan dengan baik. Amiiiin. hehehe.
Persiapan mental dan perbekalan untuk menghadap ke calon mertua. hihihi…
Pada saat malam hari, di semarang setelah traveling seharian, daku di beri nasehat-nasehat dan segala sesuatu yang harus di tanyakan kepada keluarga calon, agar untuk kedepannya tidak ada miskomunikasi. Hal ini bertujuan agar pada saat lamaran, tidak terlalu banyak pembahasan dan perundingan lagi, karena dalam bentuk acara pernikahan dan lamaran sudah di diskusikan jauh sebelumnya, dengan perantara daku dan calon untuk di sampaikan ke orangtua masing-masing.
Daku diberi wejangan banyak banget ma Bapak Ibuku, dan ada 3 lembar kertas yang aku bawa untuk persiapan menghadap, yaitu 2 lembar perhitungan untuk hari nikahan dan 1 lembar catatan corat-coret yang berisi list yang harus di tanyakan pada calon mertua.
List pertanyaan yang harus di tanyakan :
1. Tanggal lamaran
2. Adat pada saat lamaran
3. Tata upacara pada saat lamaran
4. Tanggal pernikahan
Empat point di atas lah yang harus saya tanyakan secara lengkap, untuk dapat di sampaikan ke orang tua calon.

Setelah di beri wejangan, bapak ibu istirahat, karena memang acara hari itu sangat melelahkan. Aku sendiri, nonton bola dulu, Arsenal melawan Aston Villa, 0-0 (babak pertama). hihi… Maklum, pecinta bola yang sudah lama sekali tidak pernah menonton acara sepakbola di tipi. Pas ada kesempatan, ya harus nonton walaupun cuma kuat nonton 1 babak doang, terus tertidur jam 12an malem.
Jam 3.20 pagi bangun, lalu bergegas untuk mandi. Kereta BanyuBiru seingatku memang memiliki jadwal keberangkatan dari stasiun Poncol Semarang ke Sragen pada jam 5.00, dan untuk tiket harus di beli di stasiun secara langsung dan 1 jam sebelum keberangkatan. Setelah berangkat diantar oleh Bapak Ibu tercinta, sesampainya di Stasiun.. Weiiiittt, ternyata keberangkatan kereta telah berganti jadwal menjadi 6.30 semenjak tanggal 1 November di berlakukan (Gosipnya pergantian jadwal dilakukan karena konsumen menganggap keberangkatan jam 5 pagi itu kepagian. hehehe.). Walhasil, daku, Bapak n Ibuku tercinta harus menunggu di stasiun selama satu setengah sampai dua jam. Tapi daku bersyukur, karena lagi-lagi daku di kasih waktu untuk sharing dan mendengarkan wejangan dari Bapak Ibu sebelum bertemu calon mertua di Sragen.
Sebelum berangkat, daku telpon calon kalau keberangkatan kereta tertunda 1 setengah jam, sehingga daku kemungkinan akan sampai di Sragen pukul 10an siang. Pergantian jadwal keberangkatan kereta Banyu Biru ini membuat acaraku dan calon menjadi sedikit berubah. Karena sebenarnya kita punya rencana sesampainya daku di Sragen, ingin mampir di Soto yang notabene sangat terkenal di Sragen, dan harganya juga 2 ribu rupiah saja satu mangkok. hihihi. Yaaaahh, apa mau dikata, karena memang belum rejeki, so.. kita batalkan rencana itu. Di kereta, daku menyusun kata-kata yang indah dan terstruktur untuk dapat di sampaikan ke camer secara sopan, sembari membaca list pertanyaan dari salah satu lembar kertas yang aku bawa dan mengingat-ingat.
Sesampainya di Sragen, aku sudah bisa melihat kekasihku yang manis sedang sabar menunggu kedatanganku, hehhe, ternyata sudah menunggu 30 menit lebih di stasiun, walaupun kedatangan kereta tepat waktu, yaitu jam 10.10 siang. Tapi itulah kekasihku, gak tega kalo masnya sampe di stasiun duluan dan menunggu sendirian. Takut kalau-kalau daku hilang kali ya kalo sampe di stasiun sendirian. hihihihi…
Setelah bertemu, daku sempatkan untuk menunjukkan 3 lembar kertas yang di berikan oleh orangtuaku tercinta kepada Nita (Nama Si Calon). Dengan wajah yang sangat serius, Nita mengamati ketiga lembar kertas itu lalu senyum-senyum sendiri. hihihihi. Lalu dia menginformasikan bahwa Camer secara mendadak harus mengantarkan tetangganya yang akan naik haji pada jam 11an, sehingga diriku disarankan untuk tidak berlama-lama berada di stasiun Sragen.

Walhasil, diriku langsung menuju ke rumah Camer dengan menggunakan motor Suzuki SkyWave Night Rider yang menurut referensi dari internet merupakan salah satu jenis motor Matic. Agak bingung dan kagok juga pertama, harus bergegas ke rumah camer, tapi untuk menggendalikan motor juga masih belum lancar. Setiap kali dalam posisi berhenti, secara otomatis nih kaki kanan selalu mencari persneling gigi. Pas mau rem, yang di tarik cuma rem tangan kanan dan kaki kiri juga otomatis gerak-gerak nyari rem kaki. Hihihi… Tapi alhamdulillah sampai juga di rumah camer dengan selamat.
Sambutannya sangat hangat, sehingga daku juga merasa di terima dan lebih relax pada saat memasuki rumah. Pada saat daku dan kedua camer mengatur posisi duduk, Nita dengan secara mendadak langsung memberikan 2 lembar perhitungan tanggal pernikahan yang daku berikan padanya pada saat berada di Stasiun Sragen. Hancur sudah rencana yang telah kupikirkan di kereta Banyu Biru itu mengenai cara penyampaian secara terstruktur, karena penyerahan 2 lembar itu merupakan urutan pada list ke 4 di catatanku.
Bukan salah Nita juga, karena memang daku lupa menyampaikan rencanaku, dan karena memang waktu yang sangat terbatas, berhubung camer sudah bersiap-siap untuk mengantar tetangga yang akan naik haji itu.
Dalam kebingunganku, aku tersenyum sambil berpikir ulang apa yang harus daku sampaikan. Daku juga bingung, kemana ya kalimat-kalimat yang sudah daku siapkan pada saat daku di kereta Banyu Biru itu. Seolah-olah hilang di telan bumi. Tapi sebelum aku bisa menyusun kata-kata, Bapak mertua membuka pembicaraan.
Bapak Mertua : “Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih karena iktikat baik mas untuk datang kesini.”
Calon Mantu : “(Masih bingung menyusun kata-kata) Terima kasih Bapak, saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah di perkenankan untuk singgah di rumah Bapak. Maaf atas keterlambatan saya, karena ternyata jadwal kereta di majukan dari jam 5 menjadi jam 6.30″
Bapak Mertua : “Di undur to mas, kok di ajukan. Kan dari jam 5 jadi jam 6.30.”
Calon Mantu : “Eh iya, betul Pak, di undur.”
Terus tertawa deh bareng-bareng. Dan sejak itu, daku jadi lebih tenang. Akhirnya dengan mengacu pada list yang ada di kertas coretanku, aku mulai menyampaikan satu persatu yang harus disampaikan. Dari niat saya mampir, lalu mengenai tanggal lamaran dan akhirnya mengenai tanggal pernikahan.
Walaupun tidak mungkin bisa di sampaikan semua secara mendetail mengenai tata cara pernikahan dan lamaran, tapi daku cukup puas dengan pertemuan itu. Dan Nita dengan setianya menemaniku pada saat daku mengutarakan semua maksud dan tujuanku ke Camer. Semua yang harus di sampaikan telah tersampaikan. Walaupun memang ada beberapa adat yang harus di sesuaikan, karena memang tidak mudah untuk menyatukan adat yang mungkin memiliki nilai dan makna yang berbeda pada tiap daerah. Asalkan di sampaikan dengan komunikasi yang baik, Insya’allah tidak akan menjadi masalah yang berarti.
Pukul 13.30 siang, aku dan Nita sudah berencana untuk pulang bersama, kita menuju ke terminal Sragen diantar oleh Mas Wahyu (calon kakak ipar) dan Dik Widhi (calon adik ipar). Di perjalanan, akhirnya roda Suzuki Skywave tidak sanggup lagi menopang tubuhku yang notabene besar ini dan akhirnya kempes juga. hihihi… Walhasil, harus ganti motor di tengah perjalanan.
Di perjalanan menuju terminal Sragen, alam tidak henti-hentinya mengujiku, kita diguyur lagi oleh hujan yang deras sekali. Kalo menurut fengshui, berarti keberangkatanku dari Cikarang, dan Kepulanganku ke Cikarang, semua adalah berkah dan banyak rejeki. Amiin.
Di sepanjang perjalanan ke Cikarang, daku dan nita mulai mengevaluasi dan menyusun rencana-rencana kedepan. Dan juga tidak luput kita membicarakan masa lalu yang telah menjadi kenangan indah bagi kami, baik itu pengalaman yang membuat kita tersenyum maupun pengalaman-pengalaman yang membuat kita bersedih. Semua telah menjadi kenangan indah yang tak mungkin kita lupakan, karena dengan kenangan-kenangan itu, Insya’allah bisa menjadikan pelajaran untuk kita menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Sangat penting bagi kami untuk selalu mempersiapkan masa depan, karena tidak dapat di pungkiri bahwa cobaan pasti datang, hanya dengan persiapan dan mental yang lebih kuat, kita bisa melalui cobaan-cobaan itu secara baik dan bersama. Amiiiin.







kang ady …numpang kenal iki piye kabarmu
aku baru buka…blog anak2 semarang…aku lahir neng Lemah gempal 1 pasar bulu
salam buat konco2 yo
Comment by edy wahono — November 17, 2008 @ 1:44 pm
“Calon Mantu : “(Masih bingung menyusun kata-kata) Terima kasih Bapak, saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah di perkenankan untuk singgah di rumah Bapak. Maaf atas keterlambatan saya, karena ternyata jadwal kereta di majukan dari jam 5 menjadi jam 6.30″”
ki critane grogi to Dhi? kkk
Selamat dan sukses menuju gerbang kehidupan baru. Semoga semua yang direncanakan berjalan dengan baik dan tanpa halangan yang berarti. Jo lali ne ngundangi aku, sipake transport e juga yo. kkkk
eh iyo, ki koq commentku isih atas namamu yo? koq aneh… apa yang kau lakukan pada PC ku….!!!
Comment by lora — November 18, 2008 @ 1:59 am
amiiin…
Matur nuwun mbak lora, pasti di undang. Doakan ya… hihihihi..
Yup, groginya minta ampun. hihihi. Lebih grogi daripada berhadapan dengan Mr. Nam. hihihi… :p
Comment by ryotahiro — November 18, 2008 @ 2:02 am
selamat ya…
jadinya dapat tanggal berapa dhi?
undang2 ya..siapa tahu bisa datang
semoga lancar urusane. amin
Comment by aries — November 24, 2008 @ 3:31 am
Insya’allah lamaran tanggal 28 Desember ini mas. Doain ya. Untuk nikah di rencanakan bulan Juli.
Comment by ryotahiro — November 26, 2008 @ 12:37 am
Alhamdulillah..
Teman ku dah sebentar lagi menuju jenjang perkawinan.
Semoga segala sesuatunya berjalan lancar.. Amin..
Comment by Reza — November 29, 2008 @ 4:56 pm
Waktu pertama kali baca, campur aduk banget perasaan ita…
bahagia dan berbunga-bunga karna hubungan kita lebih serius, sedih karna ita yang mengacaukan rencana dan kata-kata yang dah disusun Mas dengan runtut, banyak hal yang lucu, kunjungan yang singkat, buru2, tapi yang pasti hari itu sangat kita nantikan ya Mas…
Terima kasih ya Mas atas keseriusan dan tanggungjawabnya yang luar biasa…
Lov U
Comment by anita — December 1, 2008 @ 8:16 am
bos kalo ngundang aku sekalian tiket pp ya…
miri-KL-solo-KL-miri…
hehhehhe…
sukses aja dengan rencana nikahnya
moga2 lancar dah berkah…
amin
Comment by kautahusiapa — December 23, 2008 @ 1:08 am