Slup-Slupan (Hari Pertama Menempati Rumah)
Hari sabtu, 25 April 2009, langit Cikarang terlihat cerah dan Ibu penjaga rumah sudah mulai terdengar candaannya dengan Ibu-ibu penjaga rumah tetangga lain. Pada hari itu pula Sang Jaka sudah mulai siap-siap membereskan barang-barangnya yang sudah mulai berdebu untuk menempati rumah baru. Bisa dikatakan Sang Jaka kurang persiapan dalam packing barang, karena hari-hari sebelumnya pulang selalu malam. (* Alasan melulu nih Sang Jaka)
Sang Jaka dalam beberapa hari kemarin sudah dikasih wejangan oleh Ibunda Sang Jaka mengenai ritual yang akan dilakukan di rumah baru. Untuk ritual ini, akan dijelaskan lebih lanjut.
Dalam menempati rumah baru, ada ritual yang biasa dilakukan oleh keluarga Sang Jaka, yaitu dinamakan ritual “Slup-slupan”. Dalam ritual ini, ada beberapa hal yang harus di persiapkan :
1. Lampu ting
2. Kendi (diisi air dari tempat asal)
3. Beras dan bumbu
4. Tiker
5. Sapu Lidi
Prosesi :
Ada dua orang yang perlu melakukan ritual ini, satu orang memegang sapu lidi untuk menyapu, dan satu orang lagi memegang lampu ting dan kendi. Dua orang ini akan berdoa terlebih dahulu di depan rumah dan setelah berdoa, mulailah mereka mengitari rumah dengan menyapu dan menyirami sekeliling rumah dengan air dalam kendi tersebut.
Makna :
Air disiram ke sekeliling rumah agar rumah menjadi dingin, anyeb, tentram. Sapu lidi dan menyapu agar semua kotoran bersih, baik dari yang fisik maupun lelembut (makhluk halus). Lampu agar selalu mendapat sinar terang dalam menjalani hidup. Beras, simbul agar tidak pernah kekurangan pangan, sedangkan empon-empon dan bumbu dapur, sebagai simbol bahwa selalu tersedia bumbu untuk masak dan obat-obatan. Sedangkan kembang setaman, agar rumah dan penghuninya selalu harum, berbuat baik.
Praktek di rumah baru :
Berhubung saat dibawa dalam perjalanan, kendinya pecah, walhasil diganti dengan Jar tempat minum biasa. Yang penting kan maknanya sama, yaitu tempat minum. Kalo jaman dulu sudah tercipta barang yang namanya teko/ jar, pasti orang jaman dulu pakenya teko. hihi…
.

Dan berdirilah Sang Jaka di depan rumah dengan lampu ting dipegang di tangan kiri, dan jar tempat minum (baca = Kendi) dipegang di tangan kanannya. Pemegang sapu lidi adalah Ayah dari Sang Jaka, berhubung Sang Jaka dan TPK belum menikah, sehingga pemegang sapu digantikan oleh Ayah Sang Jaka, dan TPK sendiri memegang kamera untuk foto-foto. hehehe.
Dengan membuntuti Bapak yang menyapu di depan, secara berlahan Si Jaka menyiram bekas sapuan Bapak dari depan rumah sampai belakang rumah. Diusahakan semua tanah yang mengelilingi rumah harus di bersihkan dan disiram dengan air dari kendi ini.
Setelah selesai, lampu ting tadi harus menyala selama sehari dan tidak boleh padam. Dan di satukan di salah satu sudut rumah beserta dengan beras, tiker, bumbu dan umpon-emponnya.

Dihari yang sama itu pula, Sang Jaka dan Tuan Putri Kepoh berkeliling berkenalan dengan tetangga-tetangga sekitar rumah. Dan tidak lupa mereka menghadap ke Ketua RT yang bertanggung jawab atas Desa Sang Jaka ini. Mereka juga membawa roti dan sepucuk surat untuk “Mohon Doa Restu” dengan ditempatinya rumah baru mereka, dan diselipkan ke dalam kotak roti yang telah disiapkan.

Menutup artikel ini, Saya “Sang Jaka” mohon doa restu, semoga rumah baru kami penuh kesejahteraan, ketenangan, penuh berkah dan selalu dalam lindungan Allah. Amiiin.








Selamat menempati rumah baru..
Semoga membawa berkah, kebahagiaan, ketenangan, kebaikan dan kesejahteraan. Amiiin..
jangan takut ya nempati sendiri..
Hehe..
Lov U
Comment by anita — April 30, 2009 @ 5:08 am
Gimana ya kabarnya Cikarang sekarang? masih penuh debu kaah?
Comment by hafidz — April 30, 2009 @ 5:29 am
wah, masih penuh debu kok mas. hehe… Masih belum ada program penghijauan, tapi pembuatan rumah n bangunan ada terus. hehehe.
Comment by ryotahiro — April 30, 2009 @ 12:44 pm
ternyata kowe jowo banget ya dhi…
hehehhe
Comment by kautahusiapa — May 14, 2009 @ 7:14 am
@Nur : Yo mesti jowo banget no nur. Jenenge juga wong Jowo. walaupun ora iso ngomong krama alus. :p. Isone ngomong Ngoko gaul. hihihi…
Comment by ryotahiro — May 14, 2009 @ 10:05 am
koyo pas jaman KKN mbiyen
pak lurahku bar pindah omah
walhasil d belakang kamar cowo ad sesaji macam itu (dulu kupikir sesaji)
ternyata bahan2 buat ritual jawa
hehehehe…
terima kasih pencerahannya
Comment by andhien — July 29, 2009 @ 2:40 am