Persiapan Nikah (Chapter 4 - Foto Prewed Part 2)

Setelah menceritakan pengalaman foto prewed pertama di Cibubur, Sang Jaka dan Tuan Putri Kepoh akan menceritakan sesi pemotretan kedua di Semarang bersama fotografer Mas Pram.
Ada 4 lokasi yang telah ditentukan, 1 indoor dan 3 outdoor.
Konsep kostum untuk prewed kali ini adalah kebanyakan formal. Sang Jaka dan Tuan Putri Kepoh membawa kostum-kostum :
1. Kebaya dan Basofi 2 stel
2. Hem putih, jeans biru dan rompi merah
3. Dua seragam sarimbit batik
Dan jangan lupa, seperti di cerita sebelumnya, SJ dan TPK juga membawa koper segedhe bagong saat sesi pemotretan di Semarang. Just in case. ![]()
Kita berangkat pagi sekali, jam 6 pagi untuk dandan di perias. Sang Jaka kira yang didandanin cuma TPK saja, ternyata Sang Jaka juga ikut dibedakin dan dikasih lipstik. hihi… Yang jelas, hasilnya memuaskan sekali, TPK juga menjadi semakin cantik saja. Terima kasih Pak Cip dan Bu Cip yang sudah merias Sang Jaka dan Tuan Putri Kepoh dengan luar biasa sekali. Terima kasih juga telah dipinjamkan 2 stel kebaya untuk TPK dan basofi untuk SJ sehingga penampilan SJ dan TPK bisa maksimal dalam sesi pemotretan prewed.

Setelah di rias, SJ dan TPK melanjutkan perjalanan untuk menjemput Mas Pram sang photografer. Di rumah mas Pram, kita brefing-brefing sebentar mengenai lokasi yang akan dikunjungi dan kostum-kostum apa saja yang SJ dan TPK bawa.
Dari brefing itulah, SJ, TPK dan Mas Pram memutuskan untuk mengunjungi 3 tempat utama, yaitu :
1. Kebon Raja Ungaran
2. Gedung Songo
3. Bawah jembatan ke arah Tinjomoyo
Namun, sebelum mengunjungi tempat-tempat yang telah ditetapkan tersebut, Mas Pram mengajak SJ dan TPK untuk mampir ke studionya. Di studio ini, sesi pemotretan dimulai pertama kali.
Kostum pertama yang dikenakan oleh TPK adalah kebaya. Dengan penuh kecanggungan, SJ dan TPK mulai bergaya di depan kamera. Kebanyakan memang diatur oleh Mas Pram, karena SJ dan TPK juga bingung mau berpose seperti apa. :p

Setelah merasa cukup melakukan sesi pemotretan di studio, kita melanjutkan perjalanan ke Kebon Raja Ungaran. Sang Jaka akan menceritakan sedikit mengenai lokasi pemotretan di Resto Kebon Raja.
Kebon Raja merupakan bangunan restoran yang terletak di Jl. Semarang-Bawen. Restoran ini mengadopsi idiom arsitektural Bali dimana didukung dengan pemakaian bahan bangunan alami, seperti batu candi, batu paras kuning, bermacam warna batu koral dan sebagainya.
Dari gerbang depan sudah terlihat megah, dengan pintu yang besar dengan citra etniknya. Resto inipun diramaikan dengan patung-patung yang memiliki kesan seperti di lingkungan candi.
Setelah sampai di Kebon Raja, Mas Pram merasa lingkungannya terlalu terekspose cahaya, karena hari sudah menginjak siang. Maka SJ dan TPK mencari tempat yang mungkin bisa lebih teduh sehingga hasil pemotretanpun bisa maksimal. Beruntung pula SJ dan TPK, karena walaupun hari itu cerah sekali dan panas, namun masih berawan. Pada saat matahari tersipu malu bersembunyi di balik awan, maka dengan sigap SJ dan TPK berpose untuk dijepret oleh Mas Pram.

Setelah dirasa cukup berfoto-foto di Kebon Raja, kita langsung… pesen makan dulu, soalnya gak enak mampir di resto cuma foto-foto ajah. hihi.. :p
Setelah selesai makan siang, kita melanjutkan perjalanan ke Gedung Songo. Wuiihhh… dingin banget di Gedung Songo ini. Posisi Gedung Songo ini berada di kaki Gunung Ungaran, kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Seperti namanya, Gedung Songo terdiri dari sembilan candi yang berderet dari bawah ke atas yang dihubungkan dengan jalan setapak bersemen. Untuk dapat menikmati keindahan candi-candi ini, dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kuda.
Sang Jaka dan Tuan Putri Kepoh sendiri sangat tergoda dengan kuda-kuda yang banyak tersedia di Gedung Songo. Mungkin memang diternakkan kuda-kuda ini, sehinggu jumlahnya puluhan, bahkan mungkin sampai seratus.
SJ, TPK dan Mas Pram memutuskan untuk menggunakan latar belakang candi kembar untuk sesi pemotretan berikutnya. Berhubung lokasinya yang cukup jauh dan menanjak, SJ dan TPK memutuskan untuk menggunakan jasa kuda. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan agar riasan pada wajah TPK tidak luntur karena keringat, dan juga karena mungkin takut kalau-kalau Sang Jaka pingsan tengah jalan kalo dipaksakan untuk jalan kaki. :p.
Akhirnya sampailah kita di lokasi Candi Kembar dan mulai sesi pemotretan dengan kostum batik. Batik yang dikenakan pertama adalah batik ungu. Ternyata susah juga berfoto di tempat wisata, karena pengunjung yang banyak keluar masuk candinya, sehingga tiap kali pemotretan selalu ada penampakan orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Belum lagi masalah pencahayaan yang terlalu berlebih karena waktu pemotretannya pada siang hari.

Setelah puas dengan kostum batik ungu, SJ dan TPK memutuskan untuk mengganti kostumnya dengan batik warna coklat yang telah disiapkan sebelumnya. Berhubung tidak ada tempat untuk berganti pakaian, maka kita memutuskan untuk berganti pakaian di dalam candi. Satu sama lain saling bergantian jaga di pintu candi saat yang lain berganti pakaian. Yang lucu adalah saat Sang Jaka berjaga dan TPK berganti kostum…
TPK : “Mas, sudah mas… Gimana pakaiannya, rapi?” (*sambil keluar candi)
(*Belum juga memperhatikan pakaian yang dikenakan TPK, SJ terkejut melihat wajah TPK…)
Hayo.. pilih jawaban yang bener… Apa yang kalimat yang diucapkan Sang Jaka pertama kali saat melihat TPK keluar dari candi?
a. “Wah, cantik betul sayangku ini…”
b. “Hatiku luluh dengan kecantikan wajahmu sayang.”
c. “Ayu men rek…”
d. “Koyo bidadari tenan calonku iki yo..”
e. Salah semua
Dan jawabannya adalah… E.
Mari kita lihat kelanjutan ceritanya…
Saat TPK keluar dari candi, Sang Jaka terkejut melihat wajah TPK.
SJ : “Sayang, kok kayak Jojon !!!???” (Kunci jawaban pertanyaan diatas
)
Ternyata riasan Tuan Putri Kepoh secara tidak sengaja terhapus dari bawah hidung sampe bibir, persis seperti kumis jojon bentuknya. Mungkin tergesek kerah baju saat mengenakan batik coklatnya.
Dengan spontan wajah TPK berubah 180 derajat. Dengan mata agak berair TPK berkata..
TPK : “Jahate neh neh, disamakan dengan Jojon… hiks hiks…”
Mungkin saat itu, TPK sama shocknya dengan Sang Jaka. Sang Jaka shock karena riasan belang, Tuan Putri Kepoh shock karena Jojon. hihi… Tapi Sang Jaka bangga dengan Tuan Putri Kepoh, karena walau dengan perasaan sedih, masih bisa membuat riasan indah kembali dengan cepat.
. Maapin Mas ya sayang atas perkataan spontan mas…
Setelah riasan sudah diperbaiki, kembali kita meneruskan foto-foto di candi kembar dengan menggunakan batik coklat.
Setelah merasa cukup dengan sesi pemotretan di candi, SJ dan TPK memutuskan untuk turun gunung dengan menggunakan kuda kembali, namun sebelum dikembalikan, disempatkan untuk berfoto diatas kuda, bak Zorro yang membawa kekasihnya, atau bak Alfredo yang sedang membawa Maria Mersedes.hihi… (Yang cowok namanya Alfredo bukan ya?? :p)
Dari Gedung Songo, kita mampir kembali ke Kebon Raja dan berganti pakaian disana. Kostum berikutnya adalah hem putih dengan jeans biru dan slayer batik. Kostum ini sebenarnya untuk sesi pemotretan di bawah jembatan, tapi berhubung kita sudah berada di Kebon Raja, ya disempatkan untuk mengambil kembali beberapa jepretan di tempat tersebut.
Kita sampai ke tujuan ketiga sore hari. Badan sudah mulai pegal-pegal dan lelah sekali rasanya. Untuk sampai ke tempat pemotretan, SJ dan TPK harus menyusuri rumput-rumput yang menjulang tinggi dan jalanan yang curam. Maklum karena tempat sesi pemotretan tersebut adalah di bawah jembatan.
Kita berpose di beberapa tempat di sekitar jembatan. Tapi yang paling ekstrim adalah nyebrang sungai untuk bisa foto-foto di atas batu besar di tengah sungai. Berhubung Sang Jaka dalam hidupnya lebih sering jalan di medan kering, merupakan suatu perjuangan berat bagi Sang Jaka untuk menyeberangi sungai. Kepleset beberapa kali Sang Jaka untuk bisa sampai batu besar di tengah sungai. Beda dengan Tuan Putri Kepoh yang dengan lancar melewati semua rintangan sungai dengan baik. Sempet malu juga Sang Jaka karena awalnya dengan gagah berani, Sang Jaka berada di depan Tuan Putri Kepoh untuk menuntun dan menjaga TPK menyeberangi lautan, tapi apa daya, akhirnya ditengah perjalanan, gantian Sang Jaka yang dituntun TPK.
:D. Berarti memang sudah berhasil emansipasi wanita diterapkan dalam hubungan Sang Jaka dan Tuan Putri Kepoh.

Di jembatan inilah sesi pemotretan terakhir dalam prewed Sang Jaka dan Tuan Putri Kepoh. Dan alhamdulillah semua berjalan dengan baik dan hasil yang memuaskan. Semoga setiap photo yang dihasilkan dapat menjadi kenangan abadi dan selalu manis untuk di kenang. Amiiin.
~ the end ~







Hehe…
Makasih ya Mas…
Deskriptif sekali.Jadi ketawa-ketiwi lagi..
Lov U
Comment by anita — July 2, 2009 @ 1:40 am
nikah2..wah rasanya jadi kepingin..nanti lah kalo udah lulus…makasih mas dah berkunjung ke blog saya…
Comment by adiputra — August 8, 2009 @ 5:35 am
You look like Dad…. ngggkayyyy….?
Good post… ngggkayyyy….?
Comment by arief — October 21, 2009 @ 4:35 pm
I look like dad when I’m wearing a peci yeah? hahaha… I just noticed..
Comment by ryotahiro — October 21, 2009 @ 4:38 pm